Konfigurasi FTP Server dengan vsftpd

Ada beberapa paket FTP Server, diantaranya vsftpd, proftpd, dan pureftpd.

Praktikkum kali ini akan dibahas konfigurasi FTP Server dengan vsftpd.

PRAKTIKUM 1. FTP SERVER UNTUK ANONYMOUS

Langkah 1. Instalasi paket vsftpd

Langkah 2. konfigurasi file /etc/vsftpd.conf

Konfigurasi agar siapa saja (anonymous) dapat mengakses server.

Langkah 3. Buat/copy file/direktori ke /srv/ftp agar dapat diakses oleh pengguna.

Langkah 4. Restart layanan vsftpd

Langkah 5. Pengujian dari klien

 

PRAKTIKUM 2. FTP SERVER DENGAN AKSES USER

Langkah 1. konfigurasi agar ftp dapat diakses dengan user

Langkah 2. Buat user baru

Langkah 3. Buat file/folder

Langkah 4. Restart layanan vsftpd

Langkah 5. Pengujian FTP Server

Dengan mengkatifkan akses oleh user tertentu maka secara default akan diarahkan ke home direktori akun yang digunakan.

Konfigurasi DHCP Server di Debian 9

Setelah memahami konfigurasi IP Address dan Subnetting, maka praktikum selanjutnya adalah membuat DHCP Server.

Langkah 1. Mencari paket isc-dhcp-server

Langkah 2. Instalasi isc-dhcp-server

Langkah 3. konfigurasi dhcp pada file dhcpd.conf

konfigurasi dhcp sesuai subnet yang digunakan

Langkah 4. menentukan interface yang akan digunakan pada file /etc/default/isc-dhcp-server

Sesuaikan dengan nama interface pada kartu jaringan Anda, dalam contoh menggunakan interface: enp0s3

Langkah 5. restart layanan dhcp

Dengan demikian konfigurasi DHCP server sudah benar dan sudah dapat digunakan.

Konfigurasi IP Address di Debian 9

Ada perbedaan konfigurasi IP Address di Debian 9 dengan versi Debian sebelumnya yaitu Debian 8.
Pada Debian 9, tidak ditemukan penamaan interface dengan nama eth0, tapi sudah berubah penamaannya disesuaikan dengan nama yang menggabungkan lokasi fisik dari konektor perangkat keras.

Namun jika Anda mau, penamaan interface tersebut dapat diganti kembali menjadi eth0

Langkah 1.

Praktikkan seperti perintah berikut:

Gambar 1. Perintah untuk mengetahui nama interface

Dari contoh di atas, maka nama interfacesnya adalah enp0s3.

langkah 2.

Selanjutnya adalah konfigurasi IP Address, dengan cara edit file:

#nano /etc/network/interfaces

Gambar 2. Konfigurasi IP Address

Untuk menon-aktifkan fungsi pengalamatan otomatis, berikan tanda # pada 2 baris seperti pada gambar. Selanjutnya ketikkan konfigurasi seperti contoh.

Langkah 3.

Agar IP Address bisa aktif, restart layanan pada network, dengan perintah:

#/etc/init.d/networking restart

Selanjutnya ketikkan perintah:

#ifconfig

maka hasilnya seperti berikut:

Memahami Subnetting pada IPV4

Untuk menghitung subnet, kita harus memahami karakteristik setiap kelas IP Address.
Dalam kesempatan ini akan dibahas berkenaan dengan Subnet IP Address Kelas C.

Karakteristik IP Address kelas C :

  1. Blok Network ID pada byte 1, byte 2, dan byte 3
  2. Blok Host ID pada byte 4
  3. Mempunyai range IP : 192 s.d. 223
  4. Subnet mask default 255.255.255.0 atau CIDR /24
  5. Alokasi untuk IP Privat : 192.168.0.0 s.d. 192.168.255.255
Contoh menghitung subnet:

Soal :
Hitung Subnet dari 192.168.1.0/25

Jawab :

Langkah 1.

Tentukan terlebih dahulu subnet mask-nya, karena menggunakan CIDR /25 berarti mempunyai bit 1 sebanyak 25, yaitu :

11111111.11111111.11111111.10000000 atau 255.255.255.128

Dari hasil di atas, harus DIINGAT bahwa perubahan hanya ada pada byte 4, sehingga didapat : bahwa jumlah bit 1 pada byte 4 berjumlah 1 dan bit 0 pada byte 4 berjumlah 7.

selanjutnya  jumlah bit 1 kita beri variabel “x” dan jumlah bit 0 kita beri variabel “y”,
sehingga nilai x : 0 dan y : 7 (jumlah ini menentukan penghitungan selanjutnya)

Langkah 2.

Selanjutnya kita hitung jumlah subnet dengan ketentuan 2x, karena nilai x : 1, sehingga :

2x = 21 = 2

Langkah 3.

Kemudian tentukan jumlah host setiap subnetnya, dengan ketentuan 2y – 2, karena nilai y : 7, sehingga :

2y – 2 = 27 – 2 = 128 – 2 = 126

Langkah 4.

Tentukan jumlah blok subnet, dengan ketentuan 256 dikurangi jumlah subnet mask pada byte 4, sehingga :

256 – 128 = 128
sehingga blok subnet nya dimulai dari 0 dan kelipatan 128, yaitu 0 dan 128, maka dapat ditentukan:
subnet 1 : 192.168.1.0
subnet 2 : 192.168.1.128

Langkah 5.

Yang terakhir kita tentukan jumlah host yang dapat digunakan pada setiap subnet-nya

subnet 1 subnet 2
subnet 192.168.1.0 192.168.1.128
Host pertama 192.168.1.1 192.168.1.129
Host terakhir 192.168.1.126 192.168.1.254
Broadcast 192.168.1.127 192.168.1.255

Dari penghitungan di atas, maka :

Alokasi host yang dapat digunakan setiap subnetnya adalah 126 host, dimulai dari 192.168.1.1 s.d. 192.168.1.126 pada subnet ke 1.

Kesimpulan :

  • Dalam menghitung subnet harus diperhatikan Subnet Mask (CIDR) yang digunakan
  • Perhatikan jumlah bit 1 dan bit 0 pada byte 4
  • Untuk nilai Broadcast dapat ditentukan dari byte 4 pada subnet berikutnya dikurang 1, contoh: karena subnet berikutnya setelah 192.168.1.0 adalah 192.168.1.128, maka  128 – 1 : 127. Sehingga Broadcastnya adalah 192.168.1.127

Referensi :

  • romisatriawahono.net
  • wikipedia.org